RS Anna Pekayon Tolak Pasien BPJS

RS Anna Pekayon Tolak Pasien BPJSby adminon.RS Anna Pekayon Tolak Pasien BPJSBekasi – Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi, mengatakan, pihaknya akan melakukan upaya penambahan partisipasi rumah sakit swasta yang berdomisili di wilayah setempat terhadap program Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) pada 2016. “Dinas Kesehatan silakan evaluasi rumah sakit swasta yang sampai 2015 kemarin belum mau bekerja sama dengan program BPJS. Kalau tidak mau juga, evaluasi saja […]

Bekasi – Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi, mengatakan, pihaknya akan melakukan upaya penambahan partisipasi rumah sakit swasta yang berdomisili di wilayah setempat terhadap program Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) pada 2016.

RS Anna Pekayon Tolak Pasien BPJS

RS Anna Pekayon Tolak Pasien BPJS

“Dinas Kesehatan silakan evaluasi rumah sakit swasta yang sampai 2015 kemarin belum mau bekerja sama dengan program BPJS. Kalau tidak mau juga, evaluasi saja keberadaanya karena itu wewenang daerah,” kata Rahmat Effendi di Bekasi.

Data Dinas Kesehatan setempat tercatat, dari total 37 rumah sakit swasta yang ada di Kota Bekasi hingga 2015, baru 16 di antaranya yang telah melayani pasien BPJS.

“Panggil pihak BPJS, berikan laporan kepada mereka perihal indikator keterlibatan rumah sakit swasta yang secara administrasi maupun profit belum bisa dmelaksanakan BPJS,” katanya seperti dilansir Antara.

Selain itu, dia juga menginstruksikan Dinkes Kota Bekasi untuk membuat surat edaran kepada pengelola perihal kerja sama BPJS dengan rumah sakit swasta setempat.

“Kalau masih belum juga mau berpartisipasi sejalan visi misi Kota Bekasi, tentu akan ada evaluasinya,” katanya.

Namun, rupanya pringatan yang di berikan Walokota Bekasi tidak membuat efek jera RS swasta, karena hingga saat ini masih ada saja RS swasta yang menolak pembayaran melalui BPJS.

Hal itu pun diutarakan oleh Untung Kurniawan yang belum lama ini mengurus anaknya yang bernama Ghebby Dhea Viona yang sakit terkena Demam Berdarah Dengue (DBD) merujuk ke RS Anna Pekayon.

“Pada pukul 08.00 pagi saya berobat ke dokter umum Deni Sofi, sehabis itu dicek darah tau-tau anak saya disuruh dirawat. Sehabis dirawat saya diarahkan ke bagian pendaftaran, lalu saya daftar dan tanyakan Mbak bisa tidak pakai BPJS,” ungkapnya.

Setelah itu, pihak RS Anna Pekayon yang berada di Jalan Raya Pekayon, Kelurahan Jakasetia, Kecamatan Bekasi Selatan, serta merta mengatakan tidak bisa menggunakan BPJS untuk pembayaran.

“Bapak tidak bisa pakai BPJS, karena Bapak dari umum berobat ke Spesialis Anak,” ucap Untung.

Untung pun merasa kebingungan lantaran pihak RS Anna Pekayon menolak pendaftaran pasien melalui BPJS. Lanjut Untung, pihak BPJS pun memintai uang DP untuk biaya perawatan.

“Saya kasih istri saya, dan bayar sebesar Rp 3 juta, dan malam Kamis (17/3) lalu, anaknya mulai dirawat dan ditangani,” jelasnya.

Kemudian pada Jumat (18/3) sore, sekira pukul 15.00, dokter yang memeriksa anaknya mengatakan dalam keadaan gawat.

“Saya dipanggil oleh dokternya, untuk memindahkan anak saya ke ruangan ICU, dan mengarahkan saya kembali ke bagian resepsionis,” tukasnya.

Lebih lanjut Untung mengatakan, pihak RS Anna Pekayon membeberkan semua administrasi seperti kamar dan alat medis per malam sebesar Rp 2-3 juta per hari.

Selain itu, sambung Untung, pihak RS Anna pun memintakan uang DP kembali sebesar Rp 6 juta.

“Saya kaget, kok minta DP lagi Rp 6 juta, kalau tidak ada DP, anak saya tidak bisa dimasukkan ke ICU,” bebernya.

Untung pun dibuat bingung, dan akhirnya ia kembali ke lantai dua untuk bertemu dokter Medi yang menangani anaknya untuk negosiasi, karena total keseluruhan DP sampai Rp 9 jutaan.

Melihat gelagat Untung tak sanggup membayar, dokter Medi pun menanyakan sebuah jaminan untuk anaknya.

“Saya tidak bisa mutusin Pak, karena pihak manajemen RS yang bisa memutuskan, atau Bapak mempunyai jaminan atau apa?,” ucap Untung menirukan dokter Medi..

Untung pun menanyakan rasa kemanusian RS Anna Pekayon, yang menurutnya selalu mementingkan materi dari pada keselamatan pasien sendiri.

Ia pun menanyakan di mana misi RS Anna yang katanya menyelenggarakan jasa pelayanan kesehatan yang memberikan rasa aman, nyaman dan kepuasan bagi pasien serta pengunjung rumah sakit.

“Saya ke lantai 3 dan bertemu bagian kasir. Saya punya duit Rp 1 juta boleh tidak?, pihak kasir menelpon atasannya, dan saya dibuatkan perjanjian untuk melunasi sisanya, dan akhirnya anak saya dimasukkan ke ruang ICU,”

Untung sangat menyesalkan sikap RS Anna yang membuat pasien BPJS harus merogoh kocek lebih banyak.

“Buat apa ada BPJS, kalau saya masih diharuskan untuk membayar lagi. Padahal waktu itu saya menelpon pihak BPJS yang bernama Bu Dewi, dan saya dianjurkan untuk pindah RS. Bu Dewi itu juga sebagai Korlap BPJS RS Pekayon,” tandas Untung.

Dikatakannya, Korlap BPJS RS Anna Pekayon dirinya dianjurkan untuk pindah RS guna untuk dicover oleh BPJS.

“Kalau saya tetap masuk RS Anna saya tidak akan ditanggung BPJS, hingga saat ini nomer telponnya sudah tidak dapat dihubungi lagi,” pungkasnya.(JAR/Gun)

Print Friendly, PDF & Email

Related Post

Author: 

Related Posts

Comments are closed.